DI ATAS JEMBATAN REYOT, DI BAWAH SUNGAI PENUH BUAYA
Menulis berita soal sepakbola dari kiriman kontributor
memang terlihat sangat mudah, apalagi
kalau berita itu sudah ditulis dengan baik oleh sang contributor. Rata-rata
memang sudah amat rapih; kalau pun tidak, berita tinggal search saja di
internet, lalu diedit bahasanya agar lebih efektif dan sangat bagus untuk
dinikmati di televisi
Tapi tantangannya sebenarnya bukan di situ. Bahasa yang
terlalu menyudutkan satu pihak, lalu dampaknya nanti pada masyarakat juga perlu
dipikirkan. Apakah mereka akan senang, gembira atau sedih; mengarahkan emosi
tak harus fiktif. Data faktual juga bisa untuk mengarahkan emosi penonton.
Bad news is good news; prinsip yang sepertinya benar bagi
televisi; berita terutama. Semakin buruk beritanya, semakin banyak orang yang
akan menonton, yang berarti bagus untuk share-rating stasiun tv. Tapi apa
memang selalu seperti itu? Masalahnya kini bad news justru dibuat-buat. LEBAI kalau orang bilang. Sebuah percampuran pemikiran ‘jurnalis’ yang
bercampur dengan pemikiran ‘novelis’.
Seorang pencari fakta yang punya imajinasi yang tinggi. Kadang justru
dirinya sendiri tak bisa membedakan mana yang fakta dan mana yang imajinasi.
Semua tercampur, hingga menyesatkan masyarakat. Maksud hari
membuat karya yang mendongkrak ‘emosi’ penonton, tapi yang terjadi justru penyesatan emosi.
Kali pertama dipercaya mengolah berita dari kontributor
adalah kala harus mengolah kumpulan data soal wasit di Indonesia. (materi
pertama buanget sebagai kreatif) Tak terlalu sulit sebenarnya.
Banyangan kala menulis adalah bayangan editing akan seperti
apa. Cepat... penuh aksi, pelanggaran, tanpa ada gol. Karena sepakbola memang tak cuma gol..
walaupun gol itu yang selalu ditunggu, tapi sebenarnya bukan hasil yang
ditunggu pemirsa selama 90 menit, tapi bagaimana nya... – itu yang mungkin membuat
penggemar sepakbola betah di depan televisi selama itu.
Strukturnya dibuat setelah fakta-fakta itu terkumpul. Fakta perwasitan selama paruh musim, fakta
soal rusuh karena wasit, semua dikumpulkan tapi tak dibuat dengan urut begitu
saja. Tidak disebutkan berdasarkan tanggal, tapi berdasarkan tingkat dramatisnya fakta itu.
Itu yang menurut saya bisa membuat penonton tercengang,
tanpa harus merubah fakta, cukup mengatur struktur ceritanya.
Babak ke dua, pembahasan lebih dalam dimulai. Dari sisi yang
lebih mendalam, wasit dan keluarga. Juga pelatih yang sering protes. Terakhir,
sebuah resolusi... sebuah saran untuk memperbaiki perwasitan di Indonesia.
Secara struktur menulis jurnal olahraga memang lebih mudah
daripada menulis skenario film atau FTV, tapi dalam hal produksi; mencari fakta
jauh lebih sulit daripada syuting yang sudah diatur jadwal, hari, tempat dan
tanggal syutingnya. Karena tugasnya tak
hanya mencari berita, tapi juga mencari sisi lainnya.
Thanks to: Angga wee mantan reporter GSI yang mau menemani
liputan pertama saya dan Kampers Pak Eko
Menulis tentang meninggalnya Diego Mendieta, pemain persis
solo jadi tantangan tersendiri. Mengolah
berbagai kiriman dari salah satu kontributor kami, OnggoBroto dari Solo. Biasanya
berita meninggal pemain hanya diberi jatah 1-2 menit dalam segmen info, tapi
kali ini bos meminta agar diberi jatah 1
segmen; atau sekitar 6-8 menit, karena memang sedang hangat sekali isunya.
Pekerjaan ini cukup menguras tenaga, karena fakta yang tak
terlalu banyak. Mengawali dari nama
Diego sebenarnya adalah ide bos besar, tapi selanjutnya adalah ‘kelebaian’ saya
menggunakan kata-kata. Kadang memang enak untuk menggunakan satu kalimat inti
berupa sajak di awal paragraf, tapi kalau terlalu sering terdengar seperti
lebai. Kurang pintar begitu...
Strukturnya hampir sama, hanya kali ini Isu ini dibuat jadi
hal yang teramat memalukan. Kata-kata itu memang sengaja diulang ulang agar terasa lebih mengena. Di twitter
banyak yang komen soal materi ini; mereka sering mendengar berita diego, tapi
jarang ada yang bisa hingga sesedih ini. Hmm...
Suatu pencapaian sebenarnya..
Videonya:
Kisah pilu Paul cummings jadi cerita lain. Fakta yang ada
justru terlalu banyak untuk diolah. Binggung menentukan struktur, tapi karena
saat tayang adalah saat 17 agustus, hari kemerdekaan, jadi yaa.. hajarlah.
Membahas soal kebangsaan juga kebanggaan jadi Warga Negara Indonesia.
Negara yang penuh penjahat, dari kalangan atas hingga
kalangan bawah, harus tetap dibanggakan. Karena kebanggaan itulah yang akan
jadi harapan, sebuah titik-titik kecil yang berkumpul untuk merubah negara ini
jadi lebih baik. Karena kalau bukan
orang Indonesia sendiri yang merubah Indonesia, siapa lagi??? Orang Inggris???
Reporter-Andika, kam: Bambang Krisfian, liputan kontri:
Agoes Sukarno