Sea Games, Myanmar 2013
Golden Land??
Myanmar dijuluki Golden Land, atau Negeri Emas. Mungkin karena ribuan
Pagodanya yang terbuat dari emas, juga potensi tambang batu mulia yang banyak
di Negara ini.
Bersama kamerawan Agus Hermawan, alias Gusmao, saya bertualang di Negara
ini selama hampir 11 hari. Menyenangkan karena pengalaman baru, menyebalkan
karena BEDA dengan Indonesia– cenderung negatif
SATU, Myanmar adalah satu-satunya Negara di Asia Tenggara yang masih menggunakan Visa. Akreditasi pada wartawan yang terlalu ketat menambah
keribetan yang ada di Myanmar. Kami pun pergi tanpa akreditasi, bermodal
semangat saja.
DUA, Kartu Perdana yang mahal, dan WNA di Negara ini gak bisa punya sim
card. Kartu perdana di negeri ini harga sekitar 200 dolar US atau dua juta. Orang yang kerja di sini ngakalinnya dengan membeli juga KTP orang lokal.
Kami terselamatkan karena di ajang Seagames, pemerintah Myanmar menjual Kartu
Perdana yang khusus berlaku hingga Sea games berakhir. Harganya Cuma $20. 200
rebu. Tapi tetep aja bray, untuk ukuran Indonesia mah mahal ituuu…
Jasa transfer dari Bank di Indonesia ke bank di Myanmar yang begitu tinggi membuat kami hanya
mengandalkan uang saku yang diberikan di kantor tanpa bisa minta kiriman dari
Indonesia. Padahal dana disiapkan hanya untuk 5 hari dengan prediksi Indonesia
U23 tak lolos semifinal. Ternyata Indonesia lolos. Jadi berhemat-hematlah kami selalu.
TIGA…. Jalur kendaraan yang di kanan, padahal mobil sama seperti di
Indonesia – supir ada di sebelah kanan. Jadi kasian bagi penumpang yang naik
kendaraan umum atau taksi. Jika aku duduk di sebelah supir, berarti harus ekstra berhati-hati jika mau naik dan turun dari taksi. Bisa-bisa ditabrak mobil dari belakang.
Tak terbiasanya kami dengan pola arus kendaraan ini juga membuat kami amat
kikuk kala menyebrang jalan.
EMPAT… Makanan yang Halal dan Haram khusus Muslim susah dibedakan di sini. Walau hanya
makanan ayam, tapi belum tentu yang jualan tidak menggunakan minyak babi.
Jarangnya warga yang bisa berbahasa Inggris juga jadi kesulitan tersendiri.
Namun lambat laun saya sadar, ternyata di sini banyak juga orang yang malah
bisa Bahasa Melayu. Wajar, karena ternyata (tak jauh seperti di Indonesia)
orang Myanmar banyak yang mantan pekerja kasar di Malaysia.
Well, meski banyak yang tidak enak, berada di negeri asing selalu memberi
pengalaman yang menarik. ON CAM untuk pertama kalinya terjadi di Negara ini..
hehehe… dan cukup sukses setelah mengulang sebanyak 22 kali..
Note: Terima kasih buat teman-teman WNI di Myanmar, juga Adhit Bonek Malaysia.
Seagames di Myanmar diselenggarakan di dua kota, Yangon dan Nay pyi taw.
Yangon dulu adalah ibukota Myanmar, namun sejak semakin padat, administrasi
Negara dipindah ke Nay Pyi Taw. Hebatnya
kota Yangon adalah tak ada satu pun sepeda motor yang boleh melintas di kota
ini. Kabarnya ada anak Jendral Besar yang tertabrak motor hingga meninggal
dunia. Sejak itu, selain tentara, tak ada warga yang boleh menggendarai sepeda
motor di kota Yangon.
Jika membandingkan dua kota
tersebut, tentu
saja, lebih mengasyikan di Yangon. Segala barang-barang dijual lebih murah dari yang ada di Indonesia. Selain itu, di sini juga lebih
banyak orang-orang Indonesia-nya. Rata-rata mereka kerja di sini sebagai
marketing, atau tenaga ahli. Bukan seperti di Malaysia yang biasanya jadi
tenaga kasar.
Sambutan orang-orang Indonesia di Yangon juga begitu hangat pada kami yang
jauh-jauh meliput dari Indonesia. Kami diajak bermain ke sekolah Indonesia di
Myanmar, juga ke Kedutaan Besar Indonesia di Myanmar.
Selain itu, cewek-cewek di Yangon juga lebih trendi.. Heheheee
Walau begitu, Nay pi daw punya daya tarik yang berbeda. Tempat yang sepi
membuat saya memikirkan Indonesia, jika memindahkan Ibukota Negaranya. Persiapan harus
besar karena memang membangun kota tidaklah mudah, apalagi tugas pemerintah adalah membangkitkan semangat
orang-orang di Yangon untuk datang ke Nay Pyi Taw. Mungkin ajang Sea games jadi
salah satu upaya untuk menarik masyarakat.
Di kota ini, aku juga bertemu seorang relawan Seagames. (bukan relawan juga
sih, soalnya dibayar). Dia didatangkan
dari Yangon layaknya relawan yang lain. Dia berfungsi sebagai guide untuk para Atlit
juga kami para wartawan.
Nama relawan itu sama dengan nama saya AHMAD. Dia Muslim.
Yang menyedihkan, Ahmad bercerita
tentang umat
Muslim yang ada di Myanmar. Ternyata nasib Muslim memang buruk, seburuk isu yang beredar (orang
Islam dibakar hidup-hidup warga Myanmar). Ahmad cerita bahwa cerita mengerikan itu memang terjadi.
Ahmad mengaku, saudaranya sendirilah yang jadi korban
penganiayaan/pembakaran itu. Tak terlalu
terkekspose karena berita ini memang
ditutup-tutupi. Memang sih hanya terjadi di bagian utara Myanmar, tak sampai ke ibukota dan Yangon.
Kekerasan di Negara ini hampir mirip seperti di Indonesia. Walau penjagaan
sudah begitu ketat di stadion, sampai menggunakan x-ray di pintu masuk layaknya bandara Internasional, kerusuhan ternyata masih saja bisa terjadi.
Terbukti, cara terbaik mengurangi kerusuhan di suatu Negara bukanlah dari
ketatnya kekuatan militer, tapi lebih pada pendidikan pada masyarakatnya.
Pendidikan tentang kerusuhan yang sama sekali tak ada untung nya
Myanmar kalah dari kita, lalu masyarakatnya mengamuk. Berada di antara
kerusuhan itu, saya jadi tahu rasanya menjadi warga asing di Indonesia kala melihat orang Indonesia yang rusuh.
Saya juga agak malu kala
wartawan Indonesia hampir bertengkar dengan wartawan Thailand kala Indonesia
kalah di Final. L