Baru beberapa bulan yang lalu, sekitar bulan April, saya
berkunjung di daerah ini. Tak lama, sekitar bulan puasa Juli saya kembali
di tugaskan ke tempat yang panas ini, pinggir pantai,
namun punya atmosfir ‘adem’nya Islam. Tempat ini pastinya punya atmosfir Islami
yang terkenal ke seluruh negeri.
Tak jauh beda mungkin dengan Aceh.
Bersama kawan
kamerawan asli minang, Sulaiman Manor, saya belajar mengenal Padang. Dari
makanan, tempat-tempat terkenal, hingga budaya ‘gaplek’ dan judinya. Tapi yang membuat saya kagum sebenarnya
adalah budaya rantaunya.
Setahun yang lalu,
saya bermain ke Jogja untuk meliput Semen Padang yang akan melawan Persibo
Bojonegoro, di final piala Indonesia versi LPI. Tidak boleh masuk, akhirnya
saya mengambil gambar bersama para suporter Semen Padang. Spaktak namanya. Di sinilah budaya kuatnya
sesama perantau terlihat jelas.
Semangat mereka memang
hebat, dan semangat itu tersalur pada kami untuk tetap meliput. Walau tak boleh
masuk stadion, kami nekad masuk.
Akhirnya Semen Padang
kalah kalah, tapi Spartak tetap tenang. Tak ada rusuh, karena memang itu hanyalah
permainan.
Bulan April di Padang,
serasa merasakan masakan Padang asli dari tanah minang. Berbagai materi saya
buat soal Semen Padang, juga Spartak. Sambutan hangat datang dari manejemen
Semen Padang, juga para pendukung Spartak. Kala itu tajuk pertandingannya
adalah dalam ajang penyisihan grup AFC cup. Spartak kembali menunjukkan aksi
mereka. Dukungan ala Islam, juga keinginan untuk menyatukan supporter Indonesia
mereka tunjukan, lewat lagu juga lewat fanatisme yang tak berlebihan – mungkin
tak pantas disebut fanatisme. Hanya mendukung tim daerah sendiri, sekaligus
ajang silaturahmi dan mencari hiburan yang sehat.
Semen Padang akhirnya menang
3-1, melahirkan idola baru di Semen Padang, Seorang Muslim dari Papua. Si ramah
M. Nur Iskandar.
Rumah mess yang
bersebrangan membuat liputan jadi mudah. Jika tak ada latihan, sore hari mereka
tetap bermain. Saya pun boleh ikut bermain. Walau belum siap kostum, darah
sepakbola saya untuk ikut bermain tetap ada. Alhasil, sepatu saya jebol dan
celana panjang saya harus penuh dengan lumpur karena terjatuh kala itu. Untung
ada vendor yang sangat ramah dari Padang, Pak Indra, yang selalu siap membantu.
Selain, M. Nur
Iskandar, Venry Mofu, TIBO sebenarnya juga jadi salah satu target saya. Sempat
jual mahal, akhirnya dia mau juga.
Bertemu dengan coach
Niel, sekaligus mendengarkan saran dari kolega saya, Uda Dino Sultan, akhirnya
saya pun membuat profil tentang coach Niel sambil menikmati masakan Padang.
Bercerita soal pengaruh santan masakan Padang pada fisik pemain sepakbola.
Sayang hingga sekarang materinya tak bisa naik. Agak kesal sebenarnya. Tapi
begitulah resiko jika terlalu banyak materi dari suatu tempat, kadang bisa naik
kadang tidak. Tergantung bagaimana respon masyarakat terhadap materi-materi
dari suatu daerah. Jika buruk, bisa jadi tidak naik lagi.

