MUSUH SUPORTER BOLA

Musuh Suporter adalah PERMUSUHAN dan KEKERASAN bukan SESAMA Pencinta Sepakbola

PSS Sleman..
Setelah ‘ngebom’ berkali-kali di twitter GSI, lewat aksi Koreo kelas dunia suporternya, akhirnya ada liputan dari kami untuk pergi ke PSS Sleman. Tajuknya sebenarnya undangan, karena tiket pesawat juga hotel mereka yang menyediakan. Selama 4 hari, bersama Kamerawan bang Rully Kurniawan juga host Anandita, kami berada di Sleman untuk meliput berbagai acara mereka, termasuk perayaan Ulang Tahun PSS Sleman.
Pertandingan keesokan harinya adalah jumpa musuh seteru, tetangga tapi musuh, Persis Solo.  Hampir rusuh memang, tapi kami datang bukan untuk meliput kerusuhan itu. Sudah terlalu banyak berita rusuh di sepakbola. Saatnya kini berita soal kreatifitas. Melencengkan fakta? Tidak. Karena kami memang datang bukan untuk melaporkan kerusuhan yang sudah ‘biasa’ terlihat di televisi. Kami datang untuk melihat aksi koreo supporter PSS.


Video ini sempat menuai protes dari pihak Pasopati (suporter kota Solo) , karena kami hanya menceritakan kebaikan supporter Sleman. Saya akui memang, sebelum pertandingan, kiper Persis berdarah karena terlempar benda asing dari oknum penonton Pss (entah benda apa, ada yang bilang botol bir, ada yang bilang gulungan kertas yang tak terputar kertasnya). Yang jelas, saya nggak perduli.
Berita aksi tak terpuji dari supporter hanya akan memperburuk citra sepakbola Indonesia. Sudah saatnya berita seperti itu dihilangkan. Kalau pun ada, jangan menyebutnya sebagai supporter tertentu, tapi OKNUM. Karena tak semua supporter suatu klub berkelakuan seburuk itu. Tak adil rasanya jika menyebut satu kesalahan supporter untuk diberikan pada seluruh supporter; penghakiman secara sosial diberikan hanya karena mereka memakai baju yang sama.
Dan lagi, jika itu terus diberitakan, dendam pasti akan semakin terpatri diantara kedua supporter. Dari pada dendam dalam melempar batu, lebih baik dendam dalam melempar kreatifitas.

Berlanjut ke pihak manajemen, cerita aneh muncul juga. Dari dukun, kasus wasit juga keangkeran stadion semua diceritakan. Ingin sebenarnya membuat materi soal itu, tapi tanpa bukti yang jelas, saya nggak berani. Lagi.. itu hanya akan memperburuk citra sepakbola kita. Lebih baik soal yang lebih positif, soal tim pss sleman yang mencoba membuat usaha bisnis sepakbola yang realistis. Seperti usaha-usaha jualan yang ada di pasar. Coba melihat industry, lihat dari permintaan, lalu menentukan pengeluaran. Mereka adalah juara jika bisa mampu bertahan hingga akhir musim, di tengah hancurnya kompetisi IPL saat ini.

Sorotan lain, tentu pada pemainnya. Ada pemain muda dan pemain senior. Saling berbagi satu sama lain. Namun, satu hal yang saya tak suka adalah kebiasaan mereka merokok. Mereka kan atlit. Tapi mungkin tak pantas pendapat itu keluar dari saya yang juga seorang perokok.
Saya juga perokok, tapi saya bukan atlit, dan saya menyesali diri saya menjadi perokok. Solusi? Entahlah. Sampai saat ini, orang pintar mana pun di Indonesia juga tak tahu cara melenyapkan rokok dari bumi Indonesia.

Sepakbola Indonesia memang penuh keanehan (negatif) jika dilihat dari dekat. Tapi dari keanehan itu banyak dipetik pelajaran, bahwa terkadang kita juga harus hati-hati dalam memberi pendapat (apalagi memberitakan) tentang suatu tim, supporter atau pemain. Tak semua kejujuran akan membawa dampak baik bagi masyarakat, apalagi masyarakat sepakbola yang saat ini kebanyakan adalah ABABIL- ABG LAbil. Mudah terprofokasi sana-sini. Semoga lewat GSI opini bukan untuk membangun profokasi untuk membawa budaya buruk, tapi budaya yang benar untuk membangun sepakbola Indonesia, juga membangun Indonesia.
Amin

MUSUH KITA ADALAH PERMUSUHAN DAN KEKERASAN, BUKAN SESAMA MANUSIA.