Lima hari jadi waktu yang terasa begitu lama. Ditemani seorang
kamerawan yang sudah saya kenal sejak saya jadi editor, mas Bambang Krisfian, saya
menuju negeri antah berantah.
Tak ada masalah di penerbangan, hanya taxi yang sulit untuk
kita cari di sana. Kebodohan saya untuk tak menukar uang di Indonesia jadi
masalah tersendiri. Harga rupiah di sana ternyata jauh lebih murah dibandingan
di Indonesia. Bahkan di sana rupiah bisa dibilang tidak laku.
Hari pertama hanya berjalan-jalan di sekitar stadion nasional.
Sambutan orang-orang Thailand begitu hangat. Sayang tidak semua bisa berbahasa
Inggris. Di dekat stadion ada restoran muslim, tempat kami makan dan akhirnya
mengenal akrab pemiliknya yang juga beragama Islam.
Hari kedua kami mulai beraksi, menuju Chonburi sekitar 100an
km dari Bangkok, mencari seorang teman bule pengelola website Chonbury FC versi
Inggris, namanya Dale. Seorang bule asli Inggris yang sudah 10 tahun lebih di
Thailand. Profesinya adalah sebagai guru Bahasa Inggris di Sekolah
Internasional.
Dibantu Dale, kami mulai meliput bermacam-macam hal tentang
Chonbury. Shot-shot yang menggunakan canon xlr canon 5d sangat elok terlihat. Mas
Bams memang sudah mahir dengan 5d. Namun untuk wawancara dan kamera yang
mengejar gambar momen, camera pd 177 bisa jadi pilihan.
Video tentang suporter di Thailand: http://youtu.be/3k1NQhkRyPI
Akses masuk ke dalam stadion cukup ketat, tidak seperti di
Indonesia yang bisa masuk sana sini asal pakai seragam trans. Untung sang
pemilik senang ada wartawan dari negeri seberang datang, jadi kami punya akses
yang cukup nyaman.
Yang berbeda lagi dengan di Indonesia, kala lagu kebangsaan
dinyanyikan, kami sama sekali tak boleh masuk, tak boleh bergerak juga,
mungkin. Semua penghuni stadion berdiri, menghormati lagu kebangsaan mereka.
Pertandingan Chonburi vs TOT dimulai. Sempat gugup karena
pemain incaran kami, Irfan Bachdim, belum juga menampakkan batang hidungnya. Tapi
dia datang, dan saya coba melobinya..
Akhirnya, walau hanya sekedar wawancara, tak ada materi “jalan-jalan
bersama Irfan Bachdim di Chonburi”, satu segmen bisa kita garap dari dia; dan
ternyata itu tayangan yang jarang, karena Irfan yang selama ini berbahasa Inggris
saat wawancara, di sini mau menggunakan bahasa Indonesia. 