Tugas Pertama

Liputan pertama keluar kota, setelah sebelumnya bergelut di sekitaran Jakarta meliput Persija dan Jakmania, atau the Jak. Yang paling berkesan selama liputan saya di Jakarta di bulan pertama adalah band Gondal Gandul. Band pendamba tim Persija sejak lama. Menginspirasi saya untuk membuat kolaborasi band dari segala penjuru Indonesia, membuat materi yang amat dinamis dengan pergantian musik dari sabang sampai maraouke. (*lebai) ;tapi perlu dibuka dengan lagu yang sedang ngetren : “iwak peyek”; lagu dari suporter Persebaya

Link video gondal-gandul: http://youtu.be/f-SP-VxJ5kw
Sudah jadi budaya GSI untuk memberikan Dinas Luar Kota pada anggota barunya. Sekedar untuk ospek, memperkuat mental. Tak ada modal apa-apa, hanya saran-saran dari teman senior yang lebih mengerti sepakbola Indonesia.
Sarannya kala itu: “profil chairul huda, arif suyono malang, dan berbagai pemain Arema”..  hmmm....

Ujian yang berat karena ini baru pertama kalinya saya mendapat tugas luar kota. Adaptasi dengan kru pun terasa berat, apalagi saya telat check in pada saat berangkat. Kemalangan bertambah; saya benar-benar tidak mengerti harus bagaimana. Akhirnya saya beli tiket sendiri dan pergi ke Malang.

Di Malang, saya melihat semua pemain bola bak bintang. Target saya: wawancara Dzumafo Epandi, yang kala itu pindah dari PSPS karena nggak digaji. Melihat pemain yang terus menghindar, saya merasa tidak percaya diri untuk wawancara.  Baru kini saya sadar, bahwa mereka menghindar karena mereka tahu, pertanyaannya akan masalah gaji..
Beruntung saya dapat wawancaranya kala itu.

Sambutan sangat hangat justru datang dari mantan kapten timnas Charis Yulianto. Ia yang memberi saya pemikiran baru bahwa ‘pesepakbola’ juga manusia biasa. Tak perlu terlalu mengganggap mereka bintang. Mereka bicara dan merasa sama seperti saya. Mereka mungkin lebih mulia dari artis karena memang rata-rata besar dari keluarga yang kurang mampu. Sambutan Charis menyadarkan saya kalau pesepakbola tak selamanya tak bisa dijadikan teman.

Berlajut ke Lamongan keesokan harinya. Target kiper yang membela Persela sejak lama. Saya bahkan melihat dia di video berumur 10 tahun yang lalu, di zaman TV 7.  Dialah Chairul Huda.   
Sambutan baik lagi-lagi datang dari pemain lokal. Karena saya asli Malang dan bisa bahasa Jawa; obrolan Jawa mengiringi perjalanan kami. Makan soto dll... jadi sebuah liburan yang menyenangkan di Lamongan.

Link video Choirul Huda:  http://youtu.be/_rxjHMiBFCk
Hari itu, sudah lebih setahun yang lalu. Saya belum mengerti bagaimana akhirnya sepakbola kita terpecah. Alasan pemain kerap menolak diwawancara. Bagaimana orang-orang itu memanfaatkan media untuk bicara, dan memperkuat posisi mereka. Saya masih tak mengerti; namun ketidakmengertian itulah yang sebenarnya saya harapkan saat ini.  Sepakbola lebih enak dijadikan permainan dan hiburan daripada jadi politik yang memusingkan...