Thailand 2


Awal membandingan sepakbola Indonesia dan Thailand sebenarnya sudah sejak dulu ingin saya lakukan, mengingat Indonesia yang hampir sama budayanya dengan Thailand. Postur tubuh pemain hampir sama, tapi klub Thailand sudah bisa bicara di tingkat Asia.

Sambutan hangat diberikan ketua liga Thailand pada kami dari Indonesia. Kami bicara soal sepakbola, soal tim Indonesia zaman dahulu kala yang sulit dikalahkan. Pak Vidjit ( Joko Driyono nya kita) juga mengaku, dulu waktu ia bermain bola, ia pernah dikalahkan Indonesia.

Kantor Thai Premiere League amat sederhana. Tak boleh kami mengambil gambar di dalam, namun dari luar saya bisa bergaya masuk ke dalam ruangan..


Selain liga, saya juga coba bandingankan suporter dan klub Indonesia vs Thailand. Sulit sekali mencari wawancara di sana, apalagi menurut teman saya Dale, juga Saudi – penjaga warung muslim di sekitaran kantor FAT-  bahwa di Thailand orang baru mengenal bahasa Inggris sejak mereka kuliah. Hmm... mungkin ini juga yang dialami bule kalau datang ke Indonesia. Bingung, karena banyak juga di Indonesia yang sulit berbahasa Inggris.
 
Berkeliling stadion-stadion yang ada di Thailand cukup membuat lelah, tapi menarik. Soalnya ada satu stadion nasional yang bahkan lebih tua dari stadion GBK kebanggaan kita, justru sudah dijadikan museum. Hmm.. jadi bertanya-tanya: kapan ya SUGBK jadi museum??

Membandingan Indonesia dengan negara yang lebih maju di luar negeri emang rasanya enak, apalagi ternyata negara kita jauh lebih buruk. Lalu...  ada yang milih tinggal di luar negeri, ada yang memilih di Indonesia tapi coba memperbaiki..

Masa bodoh dengan yang memilih tinggal di luar negeri; tapi bagi yang memilih atau terpaksa berada di Indonesia, solusi harus coba diberikan. Perlahan memberi kepercayaan pada sponsor adalah saran yang coba saya berikan lewat GSI. 

Videonya: suporter indonesia vs suporter thailand
http://youtu.be/3k1NQhkRyPI

Semua negara maju pasti pernah jadi negara berkembang, PROSES itulah yang sebenarnya perlu kita simak baik-baik agar bisa jadi negara yang benar-benar maju, bukan hanya terpatok pada HASIL – hanya terpesona pada kemolekan fasilitas negara-negara maju lalu memaki fasilitas negara sendiri sebagai kesenangan bersama..