Selain bersama anak-anak, bibit-bibit baru, juga bintang nan
tenar, tak pernah kami melupakan tempat bagi Kartini yang terpinggirkan. Harus puas
hanya di bangku penonton; jadi tontonan bukan karena skill tapi lebih karena
kecantikannya.
Coba deh, saya mencari sepakbola wanita yang ada di
Indonesia. Paling nggak tak usah jauh dulu, ke ex- kampus saya saja,
Universitas Negeri Jakarta. Alhamdulillah memang di kampus ada beberapa wanita
yang memang aktif bermain sepakbola. Ada yang sampai jadi tim nasional.
Sempat ditertawai karena dianggap ‘gak kelas’ sama
teman-teman, tapi saya masa bodoh. Syaratnya harus ‘tim nasional’. “Karena
acara kita besar, dilihat orang se-Indonesia, jadi tokoh yang masuk harus orang
bertingkat nasional”. Sampai sekarang
saya masih heran kenapa harus ada slogan seperti itu. Padahal inspirasi bisa
datang dari siapa saja, nggak harus orang tenar, atau orang hebat. Biasa tapi tetap bisa berjalan dengan penuh
keterbatasan (karena kurang dukungan secara sosial dan secara fisik), itu juga
hebat menurut saya.
Akhirnya jalan juga kami ke unj, sekedang taping dengan
Hilyani dan kawan-kawan. Lalu sedikit info soal sepakbola wanita.
Rating lumayan melonjak. Akhirnya sepakbola wanita berlanjut
ke profil salah satu pemain. Maulina Novrialyni atau Cimot. Salah satu cewek
yang dianggap senior di sepakbola wanita. Padahal umurnya masih 24 kala itu.
Respon penonton pun lumayan, apalagi melihat aksi wanita
dengan juggling yang keren. Saat itu ada event Kartini - menpora cup. Jak
Angles, tim Cimot, kalah dan harus jadi di tempat ke-2. Seru sih melihat wanita
ternyata juga punya talenta. Materi tampak lebih hidup setelah diedit editor
keren bang Stevanus Avry, yang sepertinya senang sekali melihat wanita bermain
bola.
Videonya: http://youtu.be/7KXLstfPxA4
Sepakbola wanita berlanjut. Kali ini saya mengadunya dengan
tim sepakbola local yang cukup saya kenal orang-orangnya: tim Pelita Jaya. Joko
Sasongko sebenarnya agak ogah2an, begitu juga Egi Melgiansyah yang malah
terang2an menolak. Sedikit kesal saya sebenarnya.
Tapi biarlah, toh dengan teman-teman yang ada akhirnya
syuting selesai dan hasilnya juga lumayan bagus.
Videonya: http://youtu.be/3eMejL57UsM
Banyak sebenarnya rasa kesal saya pada dikriminasi. Saya
memang bukan wanita, tapi rasa tahu rasanya jadi orang yang dibedakan dan
diremehkan hanya karena fisik. Pastinya
terbayang bagaimana susahnya perjuangan Kartini, Cut Nyak dien, di zaman dulu.
Emansipasi tak hanya lahir dari diri wanitanya, tapi juga dari masyarakat pria ;
plussss…. media masa yang harus mampu untuk terus menggerakannya.