Serginho van Dijk _ baca: Sergio pan Daik

Tak sulit memang bertemu blasteran Belanda-Ambon satu ini. Ramah, bisa berbahasa Indonesia, sangat sopan, pintar, juga santun dalam menjaga hubungan dengan media. Yang jelas gelar ujung tombak tim nasional yang biasa dipegang bepe memang sudah pantas jatuh ke tangannya. Top skor berkali-kali di liga utama Australia membuat Pak Kumis rela bayar berapa pun untuk mendatangkan Sergio ke Indonesia. Tapi semua sebenarnya bukan masalah bayaran bagi Sergio. Membanggakan keluarga, itu motivasi terbesar Sergio sebenarnya.

25 Februari 2013, baru beberapa minggu setelah Sergio tiba di Jakarta, saya mengajukan diri untuk meliput dia ke Bandung. Nomor telepon biasa kami dapatkan dari kontributor kami di Bandung, Fredi Bangun. Biasanya memang kontri yang punya andil banyak dalam tim GSI untuk masalah kontak person. Lalu saya langsung diberi nomor Philps.. Dia adalah sepupu Sergio yang dari darah Indonesia. Selain juga dipercaya sebagai penghubung Sergio pada media-media di Indonesia.

Sayang, kondisi Liga Indonesia yang sedang terpecah dan beberapa media juga malah jadi sarana pemecah, membuat banyak pemain bola agak ‘takut’ bicara di depan TV. Apalagi kala itu, Persib sedang mengalami banyak kekalahan di luar kandang. Alhasil, pertemuan kami dengan Sergio sempat dibatalkan. Pihak manajemen klub ingin agar pertanyaan dikirim terlebih dahulu sebelum kami wawancara. Tak masalah, saya langsung mengirim berbagai pertanyaan saya pada Philips. Untungnya memang, akhirnya tanggal 26 Februari Sergio dan Philps mau bertemu kami untuk wawancara, di sebuah hotel besar yang pemiliknya sama dengan pemilik Trans corp.
Videonya: http://youtu.be/9wz3M8iYDMg

Pertemuan kedua kami adalah kala pertama kalinya Sergio masuk tim nasional. Kala itu garuda hendak melawan Arab Saudi. Perjuangan lagi-lagi harus kami alami. Salah perhitungan, seharusnya pagi saya bisa mewawancarainya setelah latihan. Sayang, ternyata latihannya adalah latihan tertutup. Dari pagi menunggu di lapangan sepertinya akan percuma. Berinisiatif saya menelepon Philps untuk janjian dengannya di Hotel. Dan ternyata, setelah latihan Sergio diajak Greg bermain ke rumahnya, bersama kawan-kawan lain: Raphael, dll.

Selain Maitimo, Greg satu-satunya orang yang bisa saya hubungi untuk bisa janjian dengan Sergio. Greg dan Sergio pun menjanjikan kita akan bertemu di hotel sore hari. Keluar kantor sejak pukul 6 pagi, akhirnya kami bisa mewawancarai Greg dan Sergio di hotel pukul 17.30. Hasilnya ternyata cukup baik. Banyak hal-hal yang tidak saya duga ada di antara persahabatan mereka. Dan 12 jam bukan waktu yang lama untuk menunggu momen itu.

Videonya: http://youtu.be/IgoKWnPJu_w

Ramah, pintar, cerdas.. semua ada pada pemain berkualitas ini. Sayang, di awal karirnya bersama tim nasional, Sergio harus sabar menghadapi ambisi-ambisi petinggi Sepakbola kita untuk mendatangkan tim-tim besar dari luar negeri. Dari 5 pertandingan kontra tim liga Inggris, Belanda dan Arab, belum ada gol dari dia bagi tim nasional. Semoga pertandingan-pertandingan berat tanpa makna itu tak menurunkan mentalnya demi mencetak gol untuk garuda. Go Sergio…