Bintang-bintang Kecil dari Sekolah Sepakbola

Semua orang percaya, tumbuhan besar dari bibit yang kecil. Pepatah bangsa Indonesia, bangsanya para petani dan nelayan. Namun kadang bibit kecil itu tak selamanya punya potensi besar, atau cenderung dipaksakan.  
Ada yang penuh keinginan orang tua, ingin bergaya di depan teman-teman arisan mereka karena sekarang sepakbola memang sedang ngetren. Padahal zaman dulu, orang tua banyak yang melarang anaknya bermain bola.
Ada juga yang ingin sekedar mengadu nasib; siapa tahu anak saya bisa sukses dengan sepakbola nantinya.
Ada juga yang ingin mengobati anaknya yang sakit lewat sepakbola. Ini yang unik sebenarnya, Jaysullah nama anak itu. Anak hiperaktif yang diobati sang orang tua lewat olahraga, khususnya sepakbola.
Dalam hal ini, kesalahan atau kebenaran akan sepakbola di usia belia sepenuhnya ada di tangan orang tua.

--- flash gsi --- (ganti lagu)

Sebuah pengalaman menarik ketika saya harus berkeliling Jakarta hingga Jogja dan Bandung untuk mencari-cari sekolah sepakbola yang sedang ‘ngetren’.  Dari bergaya Eropa, Amerika latin, local..  Semua ada. Menariknya lagi, semangat optimism yang luar biasa ada di tiap-tiap mereka. Di Jogja saya bertemu teman-teman dari ssb sosial Real Madrid,  yang bisa masuk tanpa bayar. Di Bandung saya ke ssb legendaris UNI Bandung, kebetulan ditemani Eka Ramdani saat itu.
Semangat terpancar untuk jadi pemain-pemain ngetop, modalnya bukan uang tapi USAHA yang keras. Kalau pun tidak jadi pemain bola, pendidikan mental dari sepakbola bisa ditanamkan di tempat kerja nantinya, apa pun pekerjaannya.

Untuk yang di Ibukota, aroma gengsi lebih kentara.. di balik senyum-senyum para orang tua, saya yakin ada sesuatu yang lebih penting daripada prestasi anak.
Saya mungkin agak skeptik dengan optimisme yang dibangun ssb di Ibukota. Tapi coba pikir, Jakarta..???? Coba sebut satu pemain sepakbola hebat yang berasal dari Ibukota?? Jakarta ini seperti hanya kota numpang tinggal saja.
Tapi lambat laun, pemikiran saya itu pudar. Melihat semangat anak-anak bermain bola langsung di hadapan saya, tak semua bermain demi gengsi.  

Tristan alif nouval contohnya, yang justru diperebutkan SSB se-jakarta karena ‘popularitasnya’ di media youtube.  Menjadikan anak kecil menjadi brand dagang karena tiba-tiba ngetop memang bukan yang pertama kali, tapi janji-janji yang diumbar orang-orang ssb itu yang membuat orang tua alief geram. Sekolah di luar negeri lah… apa lah… Janji palsu yang akhirnya harus membuat orang tua Alif harus melepas semuanya. Menjadi anak biasa, yang nanti pasti akan jadi luar biasa.

Terakhir, satu anak lagi yang cukup membuat saya terharu, adalah Jaysullah. Benar, sama sekali tak ingin mencari prestasi yang muluk-muluk, karena orang tua sadar akan keterbatasan dirinya. Hanya sebagai pengobatan, untuk bisa lebih focus, bisa meredam aktivitas Jays yang terlalu berlebihan.
Sempat menuai perdebatan memang: Apa istimewanya anak ini untuk bisa masuk TV Nasional? Banyak kalau menurut saya.  Bukan karena kepintaran Jays, tapi karena hati yang dimiliki Jays untuk terus berusaha berlatih dan bermain bersama. Juga hati yang dimiliki orang tua Jays untuk selalu berusaha mendidik anaknya, se’unik’ apa pun anaknya itu.
Karena sepakbola kita saat ini tidak butuh orang dengan otak pintar, sepakbola kita saat ini butuh orang dengan hati yang mulia.